Mengenal Teknologi Desain Fesyen 3D untuk Tekan Biaya Produksi dan Minimalkan Limbah Tekstil

Mengenal Teknologi Desain Fesyen 3D untuk Tekan Biaya Produksi dan Minimalkan Limbah Tekstil – Penerapan teknologi 3D ternyata tidak hanya berlaku di industri otomotif atau manufaktur, tetapi juga menambah ke industri fesyen global. Sejumlah brand, seperti Adidas, Hugo Boss, Louis Vuitton, bahkan brand brand kecil memanfaatkannya untuk menyederhanakan proses pengembangan desain. Namun, apa desain fesyen 3D itu?

Mengutip laman echpacker, Rabu (19/7/2023), penerapan 3D dalam desain fesyen adalah proses pengembangan prototipe 3D dari pola digital berbentuk dua dimensi. Dengan bantuan teknologi tiga dimensi, para desainer kini bisa membuat garmen 3D secara langsung di model avatar seperti asli.

Ada sejumlah keuntungan yang didapat perusahaan dengan memanfaatkan program desain 3D tersebut. Pertama adalah mempercepat proses produksi secara menyeluruh. Desainer bisa mengerjakan banyak pengepasan virtual dari sebuah garmen. Mereka juga mudah menyunting pola bisa ada kesalahan dalam proses mendesain.

Alat desain virtual juga menyediakan fitur hemat waktu yang dapat menyinkronkan pola untuk sisi kiri dan kanan atau bagian depan dan belakang desain. Dengan begitu, proses produksi hingga dipasarkan bisa dipercepat.

Penggunaan teknologi 3D juga bisa mengurangi biaya pembuatan sampel secara signifikan. Pihak label bisa membuat dan membagikan visual garmen dengan foto menyerupai aslinya tanpa benar-benar membuat sampel fisik. Karena bentuknya virtual, hal itu juga bisa menjadi solusi atas produksi limbah tekstil yang menjadi penyumbang sampah kedua tertinggi di dunia.

Salah satu sumber penghasil limbah tekstil adalah pembuatan sampel berulang kali untuk mendapat potongan yang paling pas. Dengan teknologi 3D, proses perancangan busana bisa dilakukan lebih etis dan berkelanjutan karena tak membuang-buang kain.

Keuntungan Lain dari Teknologi Desain 3D

Teknologi 3D juga bisa mengurangi limbah dengan memungkinkan mengetes garmen rancangan apakah pas atau tidak sebelum diserahkan kepada tim produksi. Dengan bantuan peta stres, desainer bisa melihat sumber masalah dan memperbaikinya.

Di sisi lain, label juga bisa memanfaatkan teknologi 3D merancang seluruh koleksi dan menampilkannya di laman. Konsumen bisa memiliki gambaran soal busana yang diminatinya secara riil, terutama jika tersedia beragam pilihan ukuran.

Bahkan, dengan memanfaatkan model avatar, label bisa mensimulasikan beragam suasana dan berinteraksi dengan calon konsumen. Desainer kemudian dapat membawa pelanggan ke suatu tempat yang sesuai dengan tema pakaian atau aksesori yang ditawarkan, bahkan bisa mencetaknya dalam bentuk 3D.

Dengan besarnya potensi, CLO Virtual Fashion sebagai salah satu penyedia layanan desain 3D baru saja mengumumkan pembukaan kantor mereka di kawasan SCBD, Jakarta, Indonesia. Dalam rilis yang diterima Liputan6.com, kantor tersebut merupakan kantor pertama perusahaan itu di Asia Tenggara sejak merambah Asia Pasifik pada 2009.

“Kami melihat semakin banyak pemimpin industri fashion di Indonesia yang mengimplementasikan solusi 3D kami untuk mentransformasi proses pengembangan desain dan membawa industri fashion ke tingkat lebih tinggi. Komunitas pengguna kami di Asia Tenggara sudah sangat besar, dan dengan pembukaan kantor di Indonesia akan semakin memperkuat kehadiran dan dukungan lokal kami bagi para pengguna,” kata Simon Kim, CEO CLO Virtual Fashion.

Solusi Garmen di Asia Tenggara

Kim menyebutkan, melalui software desain fashion, CLO memungkinkan pengguna untuk mendesain pakaian dengan variasi yang tidak terbatas, mulai dari kain, aksesori, pola jahit, serta desain yang dapat dipasang dan dilepas untuk membuat desain yang sempurna. CLO Virtual Fashion kini beroperasi di 13 kantor yang tersebar di 11 negara di seluruh dunia.

Kantor di Indonesia merupakan ekspansi terbaru CLO di Asia Tenggara, dan selanjutnya akan membuka kantor di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada akhir 2023. Melalui pembukaan kantor di Jakarta, pihaknya berkomitmen untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat akan solusi garmen 3D di Asia Tenggara.

“CLO Virtual Fashion adalah pemimpin global dalam industri garmen digital yang memberdayakan seluruh siklus garmen mulai dari konsep hingga desain, manufaktur, pemasaran, dan penataan. Dengan 3D Cloth Simulation Algorithm yang canggih, kami menggabungkan dan menyatukan semua komponen yang terkait dengan garmen digital,” imbuh Kim.

Produk dan layanan mereka meliputi perangkat lunak desain 3D, ruang kerja kolaborasi virtual, platform komunitas kreatif fashion, dan sistem plug-in integrasi. Seluruh produk dan layanan CLO Virtual Fashion saling terhubung untuk memberikan pengalaman yang lebih kreatif, efisien, dan lebih baik kepada pengguna, serta sekaligus memaksimalkan nilai penuh dari setiap garmen.

Upaya Prancis Tekan Limbah Tekstil

Limbah tekstil masih jadi persoalan dan perlu penanganan yang tepat. Menteri Negara untuk Ekologi Prancis Bérangère Couillard pada Selasa, 11 Juli 2023 menyebutkan bahwa industri tekstil diperkirakan akan berkontribusi seperempat emisi gas rumah kaca global pada 2050, menjadi industri penyumbang polutan tertinggi kedua di dunia.

Untuk mengurangi sampah dan polusi yang memanaskan Bumi dari industri fesyen, Prancis memperkenalkan skema baru, yakni dengan mensubsidi biaya reparasi baju dan sepatu lama. Di bawah skema tersebut, pemerintah menyediakan beragam diskon. Besarannya dari 6–25 euro (sekitar Rp100 ribu hingga Rp420 ribu), tergantung kerumitan perbaikan.

Contohnya, perbaikan baju sederhana akan disubsidi 6 euro, sedangkan perbaikan sepasang sepatu lama bisa memenuhi syarat mendapat potongan harga 25 euro. “Itu bisa mendorong orang-orang yang telah membeli, misalnya, sepatu dari brand yang membuat sepatu berkualitas atau juga baju berkualitas baik untuk ingin memperbaikinya alih-alih dibuang,” kata Couillard dalam jumpa pers, dikutip dari CNN, Jumat, 14 Juli 2023.

“Dan tentu saja tujuannya adalah untuk menciptakan ekonomi sirkular bagi sepatu dan tekstil sehingga produk-produk itu bertahan lama karena pemerintah, kami meyakini kehidupan kedua sebuah produk.”

Couillard mengatakan, “Apa yang kuharapkan adalah bahwa warga Prancis akan lebih sadar dengan apa yang kami lihat, yakni dampak industri tekstil di seluruh dunia hari ini.” “Jadi, mereka sendiri dapat menyadari penyimpangan cara kita mengonsumsi sekarang,” sambungnya.

Scroll to Top