Mengenal Pantir, Teknologi Pemantau Curah Hujan Buatan UI

Mengenal Pantir, Teknologi Pemantau Curah Hujan Buatan UI – Seringkali curah hujan dalam jumlah tertentu bisa mengakibatkan banjir. Oleh karenanya, untuk bisa memprediksi jumlah curah hujan, maka dibutuhkan alat pemantau.

Berkaitan dengan hal tersebut, tim dari Departeman Geosains Fakultas Matematika dan ilmu pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) yang diketahui oleh Dr. Eng. Supriyanto memasang teknologi pemantau curah hujan di area Sungai Citengah, Kemacatan Sumedang Selatan.

Teknologi karya anak bangsa tersebut diberi nama Pantir. Kehadiran teknologi ini disebut sejalan dengan Rencana Strategis Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Universitas Indonesia (UI) Tahun 2020-2024, salah satunya adalah mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, dan teknologi demi menjawab tantangan persoalan di tengah masyarakat.

Supriyanto mengatakan Pantir memiliki kemampuan untuk mengukur intensitas curah hujan, tinggi muka air sungai, tinggi muka air tanah, suhu dan kelembaban lingkungan di area pemasangan.

Menurutnya, dengan memanfaatkan Pantir peningkatan potensi bencana banjir yang kerap mengancam masyarakat Indonesia saat musim penghujan dapat diketahui lebih awal, sehingga dampak kerugian materi maupun korban jiwa dapat dihindari atau diminimalisir.

“Pantir dapat diandalkan untuk memitigasi bencana banjir melalui pemantauan tinggi muka air sungai, tinggi muka air tanah dan intensitas curah hujan di wilayah tangkapan air (catchment area),” kata Supriyanto, dilansir dari laman UI, Minggu (28/8).

Ia juga mengatakan, hasil pengukuran dari Pantir bisa diakses oleh masyarakat melalui website pada tautan https://dev-pantir.geosinyal.id dengan mengisi alamat email: [email protected] dan password: public.

Dalam kondisi normal, hasil pengukuran alat Pantir akan di-update setiap 10 menit. Namun, pada kondisi siaga, hasil pengukuran di-update setiap 5 menit atau bahkan setiap 3 menit.

Pantir dirancang dan dikembangkan di Laboratorium Kebencanaan Departemen Geosains FMIPA UI pada tahun 2019.

Pantir mulai diuji coba di lingkungan yang sesungguhnya sepanjang tahun 2020, yaitu di kawasan kampus UI dan Kota Depok. Memasuki tahun 2021 hingga 2022 pantir juga telah dipasang di tiga sungai di Jawa Barat, yaitu sungai Ciliwung di Kota Depok, sungai Cibeet di Kabupaten Karawang, dan yang terakhir dan baru saja dilakukan adalah di sungai Citengah di Kabupaten Sumedang.

Di dalam teknologi ini tersemat sebuah elektronika digital berupa mikrokontroler 32-bit yang dapat mengendalikan sensor pemantau ketinggian muka air dan sensor intensitas curah hujan.

Data hasil pantauan Pantir dapat disimpan dalam SD-Card ataupun dikirim ke database server melalui jaringan internet.

“Pemantauan oleh pantir dilakukan secara langsung (real time). Kelebihan lain dari Pantir adalah adanya fitur receiver GPS sehingga waktu pemantauan (tahun, bulan, hari, jam, menit, detik) tersinkronisasi dengan server maupun stasiun Pantir lainnya,” papar Supriyanto.

Keunggulan lainnya, kata Supriyanto, adalah sumber listrik tenaga surya yang mendayai Pantir membuatnya terbebas dari ketergantungan PLN, sehingga Pantir dapat ditempatkan di remote area.

“Dengan konsumsi daya maksimal 15 Watt, baterai pantir dapat bertahan hingga 3 hari tanpa suplai dari matahari,” pungkasnya.

Tim Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) memasang teknologi pemantau curah hujan di area Sungai Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan.

Ketua tim, Dr. Eng. Supriyanto, menjelaskan, teknologi yang diberi nama Pantir itu memiliki kemampuan untuk mengukur intensitas curah hujan, tinggi muka air tanah, suhu dan kelembaban lingkungan di area pemasangan.

Dengan pemanfaatan Pantir, peningkatan potensi bencana banjir yang kerap mengancam masyarakat Indonesia saat musim penghujan dapat diketahui lebih awal, sehingga dampak kerugian materi maupun korban jiwa dapat dihindari atau diminimalisir.

“Pantir dapat diandalkan untuk memitigasi bencana banjir melalui pemantauan tinggi muka air sungai, tinggi muka air tanah dan intensitas curah hujan di wilayah tangkapan air,” kata Supriyanto seperti yang dikutip dari keterangan tertulis UI.

Dalam kondisi normal, hasil pengukuran alat Pantir akan diperbarui setiap 10 menit. Namun pada kondisi siaga, hasil pengukuran diperbarui setiap 5 menit atau bahkan setiap 3 menit.
Telah Dirancang dan Dikembangkan Sejak 2019

Inovasi ini telah dirancang dan dikembangkan di Laboratorium Kebencanaan Departemen Geosains FMIPA UI pada tahun 2019.

Pantir mulai diuji coba di lingkungan sepanjang tahun 2020, yaitu di kawasan kampus UI dan Kota Depok. Memasuki tahun 2021 hingga 2022, Pantir dipasang di tiga sungai Jawa Barat, yaitu sungai Ciliwung di Kota Depok, sungai Cibeet di Kabupaten Karawang, dan yang terakhir dan baru saja dilakukan adalah di sungai Citengah di Kabupaten Sumedang.

Dalam teknologi ini tersemat sebuah elektronika digital berupa mikrokontroler 32-bit yang mengendalikan sensor pemantau ketinggian muka air dan sensor intensitas curah hujan. Data hasil pantauan Pantir dapat disimpan dalam SD-Card ataupun dikirim ke database server melalui jaringan internet.
Pantir Dilengkapi dengan Sistem GPS

“Kelebihan lain dari Pantir adalah adanya fitur receiver GPS sehingga waktu pemantauan (tahun, bulan, hari, jam, menit, detik) tersinkronisasi dengan server maupun stasiun Pantir lainnya,” ujar Supriyanto yang juga Kepala Laboratorium Kebencanaan Departemen Geosains FMIPA UI tersebut.

Keunggulan lainnya dari Pantir adalah sumber listrik tenaga surya yang membuatnya terbebas dari ketergantungan PLN sehingga Pantir dapat ditempatkan di remote area.

Dengan konsumsi daya maksimal 15 Watt, baterai Pantir dapat bertahan hingga 3 hari tanpa suplai dari matahari.

Scroll to Top